Saya tidak pernah menyangka bahwa perjalanan ke Lombok akan mengubah cara saya memandang liburan. Biasanya, saya termasuk tipe traveler yang hanya ingin bersantai di pantai atau jalan-jalan keliling desa wisata. Tapi liburan kali ini berbeda. Bukan hanya karena saya disambut dengan pemandangan hijau, laut biru, dan keramahan warga lokal, tapi karena saya belajar memasak.
Ya, memasak. Di tengah liburan.
Dan itu adalah keputusan terbaik yang pernah saya buat selama traveling.
Bukan Sekadar Menginap
Saat pertama kali memesan paket liburan ke Lombok, saya tidak punya ekspektasi aneh-aneh soal tempat menginap. Yang penting bersih, nyaman, dan dekat lokasi wisata.
Tapi saat saya membuka itinerary dari tim Jelajah Lombok Tour, saya menemukan satu kalimat yang langsung membuat saya penasaran: “Menginap di akomodasi dengan cooking class tradisional.”
Tunggu… masak-masak? Di hotel?
Saya awalnya mengernyitkan dahi, tapi juga merasa penasaran.
Dan setelah menjalani pengalaman itu, saya paham. Ternyata memasak bukan hanya tentang resep atau bumbu, tapi tentang cerita.
Belajar Masak, Belajar Budaya
Hari itu, saya dan beberapa peserta tur lainnya diajak ke sebuah eco-lodge di kaki bukit, tak jauh dari area persawahan di Lombok Tengah. Udara pagi masih segar, dan suara ayam kampung terdengar dari kejauhan.
Kami disambut oleh seorang ibu paruh baya yang penuh senyum. Namanya Bu Lale. Dialah yang akan mengajarkan kami memasak Ayam Rarang, sambal Beberuk Terong, dan satu menu khas Lombok lainnya yang sebelumnya bahkan belum pernah saya dengar: Pelalah.
Bahan-bahannya segar, diambil langsung dari kebun kecil di belakang penginapan. Cabai rawit, bawang merah, tomat, daun kemangi, dan terong ungu yang masih berembun.
Proses memasaknya dilakukan di dapur terbuka dengan tungku tradisional. Ada aroma kayu bakar, suara lesung, dan obrolan ringan yang hangat. Saya bahkan sempat tertawa saat teman saya kepedasan karena iseng mencoba sambal sebelum matang.
Tapi yang paling membekas, bukan rasa makanannya—melainkan momen saat Bu Lale bercerita tentang asal-usul resep, kisah keluarganya, dan makna setiap bumbu yang kami gunakan.
Menginap Tak Lagi Membosankan
Bagi saya, menginap di akomodasi seperti ini memberikan warna berbeda dalam liburan.
Alih-alih hanya diam di kamar setelah seharian keliling pantai, saya justru merasa terhubung lebih dalam dengan Lombok melalui proses memasak. Ada rasa keterlibatan. Rasa memiliki.
Saya bukan cuma tamu. Saya bagian dari kisah.
Dan itu membuat saya berpikir, mengapa tidak lebih banyak orang mencoba pengalaman seperti ini?
Tak Hanya untuk Foodie
Kalau kamu berpikir ini hanya cocok untuk pecinta kuliner, kamu salah.
Salah satu peserta cooking class yang bersama saya waktu itu bahkan tidak bisa memasak mie instan. Tapi dia tetap menikmati prosesnya. Karena ini bukan kompetisi MasterChef. Ini tentang merasa terlibat, bukan menjadi ahli.
Memasak bersama-sama di akomodasi, saling membantu memotong bahan, bertukar cerita, lalu duduk di meja makan untuk mencicipi hasil buatan sendiri—itu adalah bentuk kehangatan yang jarang ditemukan dalam itinerary biasa.
Cooking Class dalam Paket Lombok Tour
Ternyata, Jelajah Lombok Tour memang sengaja memilih akomodasi-akomodasi yang punya nilai tambah. Bukan sekadar tempat tidur, tapi juga tempat tumbuhnya pengalaman.
Mereka tidak hanya fokus pada destinasi populer seperti Gili Trawangan atau Pantai Kuta Mandalika, tapi juga menyisipkan aktivitas lokal seperti:
- Cooking class dengan penduduk setempat
- Kegiatan menanam padi di sawah
- Belajar tenun di Desa Sade
- Membuat gerabah di Banyumulek
Semua itu terintegrasi dalam paket Lombok tour yang bisa disesuaikan sesuai kebutuhan traveler.
Dan menurut saya, inilah yang membedakan mereka dari agen perjalanan lain. Mereka paham bahwa wisata hari ini bukan sekadar “lihat dan foto,” tapi “rasa dan cerita.”
Beberapa Akomodasi yang Menyediakan Cooking Class
Tanpa menyebutkan nama komersial secara eksplisit, berikut beberapa tipe akomodasi yang biasa digunakan:
1. Eco-Lodge di Daerah Pringgasela
Terletak di kawasan kaki gunung dengan udara sejuk dan lahan pertanian organik. Cooking class dilakukan dengan bahan segar yang dipetik langsung dari kebun.
2. Homestay di Desa Sade
Menginap di rumah adat suku Sasak, wisatawan diajak memasak makanan khas Lombok seperti Ares, Sate Tanjung, dan Sayur Kelor dengan metode tradisional.
3. Penginapan Pinggir Pantai di Sekotong
Sambil menikmati suasana pantai, pengunjung bisa belajar membuat Ikan Bakar Plecing, Urap Daun Singkong, dan minuman tradisional seperti teh sereh madu jahe.
Kenapa Harus Coba?
Setelah menjalani semua itu, saya sadar: liburan itu bukan soal berapa banyak tempat yang dikunjungi, tapi sejauh apa kamu terhubung dengan tempat itu.
Dan salah satu cara terbaik untuk terkoneksi dengan Lombok adalah lewat dapurnya.
Masakan adalah bahasa yang universal. Melalui masakan, kita bisa merasakan budaya, mengenal orang baru, dan menyentuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar visual.
Cooking class mungkin terdengar sederhana, tapi ia punya kekuatan untuk meninggalkan kesan yang panjang.
Cocok untuk Siapa?
- Keluarga dengan anak-anak: Mengajari anak mengenal bahan masakan dan proses tradisional bisa jadi edukasi yang menyenangkan.
- Pasangan honeymoon: Aktivitas bersama yang romantis dan penuh tawa.
- Solo traveler: Sarana terbaik untuk bersosialisasi dan mendapatkan teman baru.
- Rombongan komunitas: Aktivitas bonding yang menyenangkan tanpa harus melelahkan.
Apa yang Saya Bawa Pulang?
Bukan cuma oleh-oleh atau foto cantik. Tapi:
- Resep otentik Ayam Rarang yang sekarang jadi andalan di rumah
- Pengalaman menyalakan tungku api kayu untuk pertama kalinya
- Cerita seru tentang sambal yang bikin semua orang kepedesan
- Dan rasa rindu akan kesederhanaan
Saya percaya, pengalaman seperti ini tidak bisa digantikan dengan hotel mewah atau itinerary padat. Ia tinggal di hati. Lama.